• Kampus Penelitian Pertanian Jl. Tentara Pelajar No.3C
  • (0251) 7565366
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
    • Jurnal Hortikultura
      • Jurnal Hortikultura 2021
      • Jurnal Hortikultura 2022
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
108 dilihat       16 Februari 2026

Patahkan Stigma Petani Jorok dan Miskin, Kunci Regenerasi di RI

Profesi petani atau pun bidang pertanian dulu sempat jadi idola. Namun perlahan mulai menurun pamornya. Gelombang modernisasi membuat kegiatan bertani terlihat out-of-date dan kurang bergengsi.

Rendahnya minat mahasiswa terhadap riset pemuliaan tanaman, yang tergolong dalam riset pertanian secara umum, berakar pada stigma ini. Pandangan bahwa pekerjaan petani kurang menjanjikan, hanya ditekuni masyarakat berpendidikan rendah, serta kurangnya dukungan orang tua.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), rata-rata usia petani Indonesia berada pada kisaran 45–55 tahun. Hal ini menandakan bahwa sektor pertanian sedang menghadapi krisis regenerasi petani, di mana jumlah generasi muda yang memilih bertani semakin berkurang.

Mengapa Minat Menjadi Petani Rendah?

Rendahnya minat generasi muda di Indonesia untuk menjadi petani disebabkan oleh kombinasi kompleks antara citra pekerjaan yang kuno, ketidakpastian finansial, dan risiko tinggi. Pertanian sering kali tidak dianggap sebagai profesi modern atau menjanjikan, ditambah dengan keterbatasan akses modal serta lahan yang semakin sempit, membuat sektor ini kurang diminati.

Pandangan konvensional bahwa menjadi petani adalah pekerjaan fisik berat dengan penghasilan rendah membuat banyak anak muda lebih memilih sektor industri atau jasa di perkotaan. Persepsi bahwa bertani tidak memiliki masa depan cerah secara finansial, serta stigma sosial yang menganggap bertani sebagai pekerjaan orang tua, semakin menjauhkan generasi milenial dan Gen Z dari sektor ini.

Menurut Kepala BRMP Bidang Hortikultura Inti Pertiwi, menghadapi generasi muda seperti Gen Z agar tertarik dengan dunia pertanian harus menggunakan strategi yang tepat. Strategi ini harus mampu membalikkan stigma negatif yang ada.

“Mereka menganggap sektor pertanian itu kotor ya bukan suatu sektor yang bergengsi, kerjanya di sawah, penghasilannya juga kecil. Pekerjaan yang dianggap tidak bergengsi, dan lainnya,” ujarnya.

Dalam hal ini, pemerintah bisa masuk dengan apa yang paling disukai generasi muda masa kini, yakni teknologi. Mekanisasi pertanaman budidaya bisa digencarkan. Generasi muda biasanya suka dengan dunia mesin seperti alat mesin pertanian. Jadi semuanya bisa dilakukan dengan mesin di dunia pertanian. Di hortikultura dikenal istilah smart farming. Diantaranya dengan melakukan penanaman di dalam greenhouse atau screenhouse.

Dari sini, kata dia, para generasi muda ini bisa berpikir bahwa menjadi petani juga bisa necis. Tidak perlu kotor-kotoran di lahan, lalu mereka bisa mengoperasionalkan mesin pertanian jarak jauh dengan remote control, dan sebagainya. Hal lain yang tak kalah penting yakni penghasilan petani juga bisa bersaing dengan pekerja kantoran. Bahkan mereka tidak hanya menjadi petani modern tapi juga menjadi eksportir ketika pasar sudah terbuka luas ke luar negeri.

“Sekolah juga memiliki peranan penting. Bayangkan kalau banyak anak-anak yang tidak punya keinginan untuk mengurus pertanian, emang pangan kita berasal dari mana?”, tanyanya.

Masukkan dalam Kurikulum Sekolah

Karena itu, Inti mendukung dimasukkannya unsur-unsur dunia pertanian dan hortikultura dalam kurikulum sekolah dan sosialisasi yang lebih luas sejak usia dini. Semisal di bangku Sekolah Dasar (SD) agar mereka memiliki memori atau membangun kenangan tersendiri sejak kecil soal pertanian. Kurikulum ini juga sekaligus menjadi tantangan bagi generasi muda untuk menghasikan teknologi terbaru untuk pertanian.

Sehingga nantinya saat bertumbuh besar, generasi muda bisa memiliki gambaran bahwa dunia pertanian mempunyai masa depan yang hampir sama dengan pekerjaan atau profesi lain.

Senada dengan Inti, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gajah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho berpendapat bahwa pengenalan pertanian dan inovasi termasuk teknologi didalamnya harus diberikan sedini mungkin. Dalam laman resmi UGM, dia mengatakan pengenalan ini bisa dimasukkan dalam kurikulum sehingga ini akan memberikan wawasan atau pandangan bagaimana dunia pertanian.

Regenerasi Menjadi Kunci Pertanian Ke Depan

Krisis regenerasi petani dan menyusutnya lahan pertanian menjadi tantangan nyata. BPS mencatat tren penurunan jumlah usaha pertanian perorangan sejak 2013. Dimana pada 2013 petani RI mencapai 31,70 Juta. Sementara pada 2023, jumlah petani di Indonesia mencapai 29,34 juta petani atau turun 7,45 %.

Bayu menuturkan semua wilayah di Indonesia saat ini mengalami penurunan produktivitas pertanian baik dari sisi lahan maupun jumlah petani.

“Kita tahu, bahwa alih fungsi lahan sangat cepat, apalagi di wilayah Jawa. Begitu juga untuk petani, rata-rata usia petani di Indonesia adalah 50 tahun sehingga memang harus dilakukan regenerasi, kalau tidak bagaimana nanti 10-20 tahun yang akan datang,” ujarnya, di laman resmi UGM, Senin (30/6/2025).

Selain dampak dari konversi lahan, kata Bayu, penurunan jumlah petani juga disebabkan oleh imej bahwa pertanian adalah profesi yang kurang menarik, konvensional dan tidak produktif untuk bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

“Pemerintah perlu mengubah mindset tersebut, salah satunya adalah kita mengenalkan teknologi dan inovasi, bisa dengan teknologi digunakan di pertanian, kemudian juga kita mengenalkan teknologi dan inovasi ini sejak bangu sekolah dasar. Kita berikan pemahaman bahwa pertanian bisa modern dan bisa membuat sejahtera,” ujarnya.

Menurutnya, program petani milenial juga menjadi salah satu upaya menciptakan regenerasi petani, tetapi kalau hanya dilakukan sebatas project atau slogan juga tidak efektif.

Generasi Muda ‘Melirik’ Riset soal Pangan

Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto mengatakan fenomena generasi muda yang kurang tertarik pada riset soal pangan atau pertanian disebabkan pola kebijakan pemerintah yang dahulu lebih cenderung melakukan impor. Termasuk impor bahan pangan dan juga bibit atau benih.

Kondisi ini tentu membuat riset di bidang hortikultura dan benih kurang diperhatikan. Kemudian dana hibah riset ke arah hortikultura yang kurang optimal. Hal ini membuat mahasiswa tidak atau kurang berminat terhadap bidang tersebut.

Saat ini yang harus dilakukan pemerintah, kata dia, memberikan arahan secara komprehensif dan bantuan untuk risetnya sehingga kalangan akademi memiliki panduan serta ketertarikan kembali.

“Arahan strategi swasembada pangan dari pemerintah itu harus konsisten, terutama untuk menarik kalangan akademisi atau mahasiswa melakukan riset di bidang itu,” ujarnya, saat dihubungi BataviaPos.

Totok pun melihat saat ini tidak diperlukan sekolah vokasi pertanian yang khusus Kita tidak perlu menambah sekolah vokasi pertanian baru, karena saat ini sudah cukup banyak. Yang harus diperhatikan adalah arahan yang jelas dan juga pengawalan pemerintah termasuk soal dana riset dan tujuan yang akan dicapai.

Dalam hal ini, penguatan fokus dan arahan dari pemerintah bisa membuat fokus penelitian di hortikultura dan pertanian semakin jelas bagi para akademisi. Termasuk generasi muda yang pada akhinya bisa ‘melirik’ sektor pangan sebagai hal yang menjanjikan untuk masa depan.

Penulis: susi susanti
Reviewer: Ella Effendi
 
Sumber: https://bataviapos.id/insight/patahkan-stigma-petani-jorok-dan-miskin-kunci-regenerasi/
Prev Next

- BRMP Hortikultura


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Menjaga Sentuhan Lapangan: Dilema Sosial Budaya dalam Reformasi Riset Pertanian Nasional
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Ketika Bawang Putih Menyingkap Nasib Para Peneliti yang Terombang-ambing
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Jejak Keemasan Balitbang Kementan: Antara Integrasi dan Harapan Riset yang Membumi
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura
  • Thumb
    Menanam Kembali ‘Akar’ Penelitian Pertanian
    16 Feb 2026 - By BRMP Hortikultura

tags

BRMP BRMP Hortikultura Kementan Kementerian Pertanian petani

Kontak

(0251) 7565366
(0251) 7565366
[email protected]

Kampus Penelitian Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No.3C, RT.01/RW.15,
Menteng, Bogor Barat, Bogor City,
West Java 16111

www.hortikultura.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura. All Right Reserved